Ki R.M. Ismunandar Christanto Suryosedono

Salatiga / Warga Epistoholik Indonesia

Wednesday, September 15, 2004

Selamat datang di situs blog saya

Nama saya, Ki R.M. Ismunandar Christanto Suryosedono, kelahiran Yogyakarta, 17 Maret 1958, wiraswastawan yang berkecimpung dalam dunia penerbitan dan kewirawastaan, tinggal di Salatiga. Agama : Islam. Alamat : Salatiga Permai VI/140-141, Salatiga 50715. Telepon : 0298-340181.

Menekuni penulisan surat-surat pembaca sekitar 14 tahun lalu, ketika meluncurkan diktat Mengatasi Keuangan Selama Menganggur. Surat-surat pembaca saya berserakan di Majalah Tempo, Sinar Pagi, Bernas, Penyebar Semangat, Jayabaya dan media lainnya. Setelah saya ditugaskan sebagai Kepala Perwakilan CV Dahara (penerbit) di Bandung, 1994-1996, PT Central asia Raya, PT Columbia, penulisan surat pembaca saya terhenti.

Sebulan ini saya meluncurkan diktat Ilmu Rasa-Ilmu Nyata. Saya kini mengelola toko kecil-kecilan, dan kembali menulis untuk buletin Kawruh Jiwa dan Joggringan.

Riwayat pendidikan : tamat SD di Yogyakarta (1970), SMP di Pontianak (1973), SMA di Pontianak (1976), kuliah di Fakultas Sastra UI Jurusan Sinologi/Sastra Cina (1977), dan di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UI (1978-1983).

Kursus Bahasa Inggris (1976, 1984), Mengetik (1985), Pendidikan Pers (1977) dan Pendidikan Jurnalistik (1989).


Riwayat Berorganisasi : Ketua Bidang IV (Intern-Ekstern) Studi Klub Sejarah Modern (1979), Ketua Ranting Pemuda Marga Kodya Salatiga (1986-1989), Ketua Paguyuban Himpunan Warga Yogyakarta di Salatiga (1989-1991), Hubungan Masyarakat Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia Kabupaten Semarang (1994), Ketua Partai daulat Rakyat Ranting Sidorejo (1999).


Riwayat/Pengalaman Kerja : Pelatih transmigran di Bekasi (1980), transletter part-time di Arsip Nasional Jakarta (1981), terjun dalam dunia kepenulisan dan penerjemahan buku (1984), anggota pemasaran kopi bubuk “Bintang Jempol” dan kecap “Udang Emas” Yayasan Warga Purnawirawan ABRI Handayani, Semarang (1985), Manajer Operasi CV Budi Karya Agung dalam pembuatan proyek jalan NAA di Tengaran (1986-1987), koresponden Tabloid Narayana, Salatiga (1989), penulis naskah/pemain dalam pembuatan film/video Pengorbanan Naomi dan Ruh, produksi Yayasan Penabur Rohani, Semarang, Koordinator Agen Produksi PT Jaminan 1962, Semarang (1992), petugas pemasaran PT Effhar & Dahara Prize, Semarang (1994-1995), Kepala Perwakilan (Supervisor) PT Effhar & Dahara Prize di Jawa Barat (1995-1996), mendirikan usaha yang bergerak dalam distribusi buku-buku umum, agama dan pelajaran (1995-1996), SF Columbia (2000-2001), asisten supervisor PT Columbia Pos Salatiga (2002), agen/perwakilan majalah Labbaik (umroh dan Haji) Salatiga dan sekitarnya (2000-sekarang) dan Tracking Center Owner No. AE 268112 Goldquest International Ltd (2003-sekarang).

Buku Karangan : 1. Wayang : Asal–Usul dan Jenisnya (1985), 2. Joglo : Sekilas Rumah Tradisional Jawa (1986), 3. Tinju, 4. Balap sepeda, 5. Sepatu Roda dan Olahraga Sejenisnya, 6. Camping, 7. Mendayung, 8. Memancing, 9. Makhluk Halus Penghuni Tanah Jawa, 10. Ketrampilan Praktis Sehari-hari.

Buku-buku Terjemahan : 11. Batik And How To Make Them (Teknik dan Mutu Batik Tradisional Mancanegara), 12. Things To Make With Leather (Kerajinan Kulit, 1984), 13. Decorating Made Simple (Dekorasi, 1988), 14. How to Make Soft Toys and Doll (Mainan dan Boneka, 1985), 15. Ceramics : Technique and Projects (Keramik, 1985), 16. Volleyball (Bola Voli, 1985), 17. Rules of the Game (Ensiklopedi Dunia Olahraga, 1985), 18. Archery (Olahraga Panahan, 1986), 19. The Best Way to Better Golf (Golf Instruksi, 1986), 20. Basic Books of Sport Medicine (Pengobatan Olahraga, 1986), 21. Dictionary of Geological Terms (Kamus Geologi, 1986), 22. The Art of Negotiating (Seni Negosiasi, 1986), 23. How to Astro Analyses Yourself & Others (Analisa Astrologi, 1986), 24. Financial Success (Sukses Finansial, 1986), 25. Helping for Your Business Grow (Strategi Bisnis, 1986), 26. Office Politics (Promosi Jabatan, 1987), 27. Billiard and Snooker (Bilyar dan Snocker, 1987), 28. 13 Fatal Errors Managers Make and How You Can Avoid Them (13 Kesalahan Fatal Manajer, 1987), 29. Success and Survival In The Family Owned Business.

Terjemahan Dari Bahasa Jawa : 30. Penangguhing Dawung (Misteri Keris, 1985), 31. Kawruh Boso Jowo Sawatoro, 32. Serat Nitisastro, 33. Serat Sitijenar.

Terjemahan Dari Bahasa Belanda : 34. Wat Doe Ik Later (Aneka Profesi, belum terbit).

Piagam dan Penghargaan : 1. Piagam Mengarang Cerpen dari Radio Nederland (1976), 2. Piagam dari Pusat Perbukuan Depdikbud (1994), 3. Piagam dari Komisi Pemilihan Umum (1999).

Lain-lain : Menulis cerita anak-anak untuk Majalah Ceria (1992), menulis rubrik “Gayeng Kenceng” pada buletin Kawruh Jiwa dan Buletin Greget.

DIKTAT ILMU RASA & NYATA
Dimuat dalam kolom Surat Anda, Majalah Liberty, 1-10/8/2004


Saya ingin memperkenalkan pada pembaca, tentang sebuah diktat yang berisi “Ilmu RASA-Ilmu NYATA”. Isi daripada buku ini bermaksud agar manusia bisa hidup damai dengan semua orang, semua golongan, mampu mencapai ketnangan batin/jiwa, penyembuhan jiwa dan dapat melenyapkan “1001” kesulitan.

Sehingga kita diharpkan menjadi orang yang tabah dalam menghadapi segala maca problema hidup, tidak menyesali masa lalu dan tidak khawatir dengan masa depan.

Bagi pembaca yang berminat, silakan kirim surat dan perangko jawaban, pasti saya balas/kirim.

Terima kasih.



R.M. Ismunandar C
Salatiga Permai VI/140-141
Salatiga 50715

Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 15/9/2004


------------------

SOAL GELAR PASUNDAN
Dimuat di kolom Surat Pembaca, harian Suara Merdeka (Semarang), tanpa data tanggal.


Beberapa waktu lalu saya membaca IPS 3 untuk SD kelas 5, Penerbit Balai Pustaka Jakarta 2003, milik Dinas Pendidikan Kota Salatiga Bab 4 dengan judul Masa Pergerakan Nasional Indonesia. Di bawah tokoh no.2 tertulis Raden ajen Dewi Sartika, yang benar Raden dewi Sartika tanpa tambahan “Ajeng”.

Mengapa saya tertarik untuk menanggapi, karena beliau tokoh nasional dan tidak bisa dicampuradukkan antara gelar priyayi Jawa dengan Menak Pasundan. Meski Tatar Pasundan pernah dikuasai kemaharajaan Mataram (1620-1677) namun gelar-glar khas dinasti kerajaan itu tetap digunakan.

Antara lain Gusti Raden Mas (GRM)/Gusti Raden Ajeng/Ayu (GR) untuk putra/putri permaisuri, Bandoro Raden Mas (BRM)/Bandoro Raden Ajeng/Ayu (BRA) untuk putra/putri selir, Raden Mas (RM)/Raden Ajeng/Ayu (RA) untuk cucu, cicit, canggah.

Gelar-gelar tersebut tidak pernah disosialisasikan di wilayah yang jauh dari kuthanegara (ibukota kerajaan). Kelihatannya sepele, namun tidak bisa dianggap enteng, misalnya nama kita kurang lengkap disebut orang lain, pasti ada rasa tidak enak/tidak senang.



RM Ismunandar S
Salatiga Permai VI/140-141
Salatiga 50715

Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 15/9/2004

-----------------


TENTANG MISTERI DI TV
Dimuat di kolom Surat Pembaca, harian Suara Merdeka (Semarang), 21/7/2004


Saya tertarik tulisan Ibu Anna Indriadi berjudul “Misteri Televisi” di Surat Pembaca 29 Juni 2004 dan perkenankan saya memberika tanggapan. Memang banyak peserta uji nyali yang membaca yayat-ayat suci namun faktanya tetap kalah dan ketakutan menghadapi bayangan “setan”.

Saya tidak ingin mengupasnya dari sudut agama karena pasti berbeda antara satu dengan lainnya. Tetapi akan dibahas dari sudut kejiwaan. Seseorang yang dari kecil selalu ditakut-takuti oleh orang tua, pembantu, pengasuh, saudara, di otaknya tertanam rasa-rasa takut.

Kalau rasa takut ini tercatat selama berpuluh tahun, suatu saat apa yang dipikirkan itu akan maujud/muncul. Sedangkan mereka yang dari kecil tidak pernah ditakut-takuti, di otaknya tidak akan “tercatat” kisah-kisah hantu, bayangan hantu dan sejenisnya, sehingga tidak akan maujud.

Memang di dunia yang penuh misteri ini apa yang diajarkan kadang-kadang berbeda dengan yang dihadapi sehari-hari.



RM Ismunandar S
Salatiga Permai VI/140-141
Salatiga 50715


Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 15/9/2004


-------------------

SOAL DEMO ANTIMILITER
Dimuat di kolom Surat Pembaca, harian Suara Merdeka (Semarang), tanpa data tanggal


Saya tertarik tulisan Bapak Agus Suminto di Surat Pembaca beberapa waktu lalu, berjudul “Civil Society Tidak Antimiliter”. Demo tersebut tidak mencerminkan seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah lebih dari 200 juta antimiliter.

Segala sesuatu tidak bisa diukur dengan apa yang sudah terjadi, misalnya trauma. Yang penting dicoba dulu, toh kalau memang melakukan penyimpangan bisa saja diturunkan di tengah jalan. Menyesli masa lalu dan khawatir menghadapi masa depan termasuk “penyakit” yang menghantui berjuta-juta orang.

Di Irak (sebelum diserang AS) presidennya bukan militer, namun penganiayaan, pembantaian, penculikan bersimaharajalela. Sebaliknya di AS, dari sekian puluh presidennya ada yang militer tetapi pemerintahannya berjalan adhem ayem saja.

Sekali lagi, masa dulu tidak bisa dijadikan patokan. Apakah masa yang akan datang sama dengan masa lalu, belum tentu. Jangankan masa depan, yang dihadapi hari ini saja bisa berubah. Soal pemerintahan di tangan sipil atau militer, serahkan kepada rakyat yang memilih.



RM Ismunandar SS
Salatiga Permai VI/140-141
Salatiga 50715


Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 15/9/2004

------------------

TANGGAPAN TENTANG OBAT LIVER/HEPATITIS
Dimuat di kolom Surat Pembaca, harian Suara Merdeka (Semarang), 13/2/1999



Kami ingin menanggapi surat dari Bapak Agus Arifin FM dari Karanganyar Rt 2 Rw 5, Dukuhturi, Tegal, yang dimuat di harian ini Minggu 31 Januari 1999 tentang obat liver/hepatitis. Ramuannya gampang, ada di sekitar kita.

Misalnya, bawang, daun kintutan sekepal, brotowali, kencur dan kunyit. Cara pertama : dua iris kunyit, kencur sebesar jempol, 3 sendok teh brotowali, bawang 2 butir, serta daun kintutan, semua digerus. Cara meminum : pegang satu sendok teh ramuan itu, seduh dengan secangkir air, teguk sehari tiga kali. Kerjakan kira-kira 7 hari, syukur bisa sebulan.

Cara kedua : petik 7 helai janur kuning (daun kelapa gading berwarna kuning), 7 batang sere yang ada akarnya dan daunnya dihilangkan, 7 genggam beras kuning (beras yang dibubuhi kunyit selanjutnya dikeringkan, menggenggamnya menggunakan 3 jari), gula aren sedang-sedang saja, air dingin 4 gelas. Langsung digodok sampai tersisa 2 gelas. Racikan tadi ditenggak sesudah dingin. Lakukan secara rutin.



RM Ismunandar Christanto
Salatiga Permai VI/140-141
Salatiga 50715


Diketik ulang oleh Bambang Haryanto, 15/9/2004

Wednesday, September 08, 2004

Selamat datang di situs blog saya, sebagai warga Epistoholik Indonesia